12 Warga Sipil Tewas Diserang Militer Myanmar

0
77

Pasukan keamanan Myanmar menewaskan sedikitnya 12 orang, menurut laporan saksi mata dan media, ketika penjabat pemimpin pemerintahan paralel sipil bersumpah dalam pidato publik pertama pada hari Sabtu (13/3/2021) akan melakukan “revolusi” untuk membatalkan kudeta militer 1 Februari.

Lima orang ditembak mati dan beberapa lainnya cedera ketika polisi melepaskan tembakan pada protes duduk di Mandalay, kota terbesar kedua Myanmar, kata saksi mata kepada Reuters.

Yang lainnya tewas di pusat kota Pyay dan dua tewas dalam tembakan polisi di ibukota komersial Yangon, di mana tiga orang juga tewas dalam semalam, menurut laporan media domestik.

“Mereka bertingkah seperti berada di zona perang, dengan orang-orang tak bersenjata,” kata aktivis yang berbasis di Mandalay, Myat Thu. Dia mengatakan korban tewas termasuk seorang anak berusia 13 tahun, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (14/3/2021).

Si Thu Tun, pengunjuk rasa lainnya, mengatakan dia melihat dua orang ditembak, termasuk seorang biksu Buddha. 

“Salah satunya terkena di tulang kemaluan, satu lagi ditembak mati hingga tewas,” katanya.

Di Pyay, seorang saksi mata mengatakan pasukan keamanan awalnya mencegat ambulans dari membawa mereka yang terluka, yang menyebabkan satu meninggal.

Seorang sopir truk di Chauk, sebuah kota di tengah Wilayah Magwe, juga tewas setelah ditembak di bagian dada oleh polisi, kata seorang teman keluarga.

Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan telepon dari Reuters untuk meminta komentar. 

Siaran berita malam media MRTV yang dikelola junta menyebut para pengunjuk rasa sebagai “penjahat” tetapi tidak merinci lebih lanjut.

Lebih dari 70 orang telah tewas di Myanmar dalam protes yang meluas terhadap perebutan kekuasaan oleh militer, kata kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here