Akankah Pandemi Berakhir di 2022? Ini Penjelasan Para Ahli!

0
149
Pandemi Covid 19

Theindopost.com- Jika salah satu pejabat WHO benar, 2022 bisa jadi tahun berakhirnya pandemi Covid-19.

Ketika memasuki tahun ketiga pandemi, dunia memiliki teknologi untuk menghentikan pandemi, menurut pakar Covid-19 ternama WHO, Maria Van Kerkhove. Vaksin telah dikembangkan, banyak orang telah disuntik, dan jauh lebih banyak yang diketahui soal pengobatan penyakit ini.

“Kita punya alat sekarang yang bisa mengatasi spektrum parah penyakit ini. Kita bisa mengatasi kematian karena Covid-19 dan kita juga bisa mengurangi penyebarannya,” tulis Kerkhove di jurnal Nature Medicine bulan ini, dikutip dari South China Morning Post, Selasa (21/12).

Para ahli sepakat membatasi penularan sembari memperkuat kekebalan global melalui vaksinasi yang meluas sebelum varian yang lebih berbahaya muncul adalah jalan kembali menuju stabilitas global.

“Mengendalikan virus ini selalu dalam kendali kita, tetap dalam kendali kita,” jelas Kerkhove.

Setelah kemunculan Omicron, ahli epidemiologi Michael Osterholm mengatakan dia merasa kurang yakin terkait jalan tersebut daripada enam bulan lalu.

“Kita masih jauh dari selesai dengan pandemi ini, apa yang tidak kita pahami adalah bagaimana ia (virus) akan bangkit dalam hari-hari, minggu, sampai bulan-bulan ke depan. Kita tidak tahu,” jelas Osterholm, yang juga direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular Universitas Minensota.

Ujian kritis

Varian Omicron yang baru teridentifikasi bulan lalu nampaknya bisa mengurangi respons kekebalan dari vaksin, tapi tidak menghindarinya secara keseluruhan.

Akademisi dan ahli biologi Amerika Serikat, Maciej Boni mengatakan, jika virus corona berperilaku seperti influenza – di mana para peneliti di seluruh dunia memantau vaksin dan memodifikasi vaksin ketika akhirnya dapat secara signifikan mengurangi perlindungan – “kita hanya dapat memperbarui vaksin setiap beberapa tahun, memvaksinasi orang dan tetap berjalan”, kata Boni.

“Tetapi mengingat kita telah dikejutkan tiga kali, sekarang saya tidak tahu apakah ada di antara kita yang benar-benar dapat memprediksi seperti apa 2022 dan 2023.”

Beberapa bukti awal menunjukkan varian Omicron dapat menyebabkan penyakit Covid yang tidak separah varian Delta. Tapi belum jelas apakah ini karena sifat virusnya atau kekebalan. Di sisi lain, cepatnya lonjakan kasus telah menyebabkan kewaspadaan di seluruh dunia bahwa Omicron bisa menyebabkan lonjakan rawat inap.

“(Kami) memprediksi varian baru tersebut akan menyebar sangat cepat secara global, berdampak tidak proporsional pada komunitas dengan akses terbatas ke perawatan dan vaksin, dan usia dan profil kesehatan yang berbeda,” jelas sekelompok pakar kesehatan terkemuka di Dewan Pengawas Kesiapsiagaan Global.

“Ini akan memberikan tekanan besar pada sistem kesehatan di mana-mana.”

Ujian kritis adalah seberapa baik kekebalan yang ada dapat meminimalisir angka rawat inap dan kematian. Ini dapat menjadi tolok ukur keberhasilan dalam mengakhiri krisis pandemi, mengingat para ilmuwan tidak lagi merasa virus dapat dihilangkan dalam waktu dekat.

Kesenjangan vaksinasi

Vaksinasi dan menerapkan protokol kesehatan bisa mengurangi skala keparahan pandemi dan kemampuan varian virus bermunculan.

“Kunci mengendalikan ini adalah meningkatkan cakupan vaksinasi kita, jadi kasus-kasus yang terjadi itu tidak separah sebelumnya, dan kasus-kasus yang sangat parah itu yang tidak bisa kita cegah bisa dirawat di rumah sakit dengan sumber daya yang mereka perlukan, tanpa membebani sistem perawatan kesehatan,” jelas ahli imunologi Fakultas Kedokteran Duke-NUS di Singapura, Ashley St John.

Jika mulai muncul varian baru virus yang tak bisa diatasi secara efisien, ada beberapa strategi untuk mengatasinya, kata Ashley. Strategi tersebut seperti memberikan vaksin booster dan mengembangkan pengobatan, pemberian dosis untuk mengatasi varian tertentu atau mengembangkan vaksin generasi berikutnya yang bisa mengatasi lebih banyak varian virus atau memperkuat respons kekebalan yang telah ada.

Namun sampai 2021, tidak semua negara telah mencapai tingkat vaksinasi tinggi, meskipun sebelumnya vaksin dijanjikan bakal menjadi barang publik global dan miliaran dosis diluncurkan dari jalur produksi.

Diperkirakan 11 miliar suntikan vaksin diberikan pada 2021, menurut perusahaan analitik Airfinity. Tetapi pada November, sekitar 80 persen dari dosis tersebut telah disalurkan ke negara-negara G20 yang kaya, sementara 0,6 persen menujunegara-negara berpenghasilan rendah, menurut WHO.

“Kita masih jauh di belakang, kita masih punya jumlah besar orang yang tidak terlindungi terlepas dari ketersediaan vaksin, dan kompleksitas masalah itu sangat besar,” kata ahli vaksin dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Milken Universitas George Washington AS, Jon Adrus.

Memastikan akses vaksin yang lebih adil dan lebih luas berarti memperluas produksi dan berbagi lebih banyak dosis, kata para ahli. Dan jika itu tidak terjadi, pintu bisa terbuka untuk wabah besar, kematian, dan penyakit parah di negara-negara yang tidak memiliki cukup vaksin, dan varian baru virus berpotensi muncul lagi dan menyebar ke seluruh dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here