Beranda Opinion Apakah Politisi Sebuah Profesi

Apakah Politisi Sebuah Profesi

0
Apakah Politisi Sebuah Profesi

Undang-Undang (UU) telah mengatur persyaratan bagi setiap warga Negara yang ingin menjadi Calon Legislatif (caleg) baik di DPRD (tingkat I dan II), DPD dan DPR RI sebagaimana diatur dalam UU nomor 8 tahun 2012 sehingga siapapun WNI berhak mendaftar selama tidak melanggar hukum positif. Mengapa demikian? Sebab calon legislator mengizinkan para cacat politik untuk menjadi legislator di setiap tingkatan perwakilan, ya Predator Pancasila (Koruptor), itulah akhir polemik antara KPU dan Bawaslu berakhir, dengan syarat yang mudah, yakni calon yang memiliki riwayat pidana atau pernah menjadi terpidana kasus korupsi harus mengumumkannya ke publik perihal kasusnya.

Kekuasaan, bagaimanapun, lebih mirip pedang bermata dua. Satu sisi ia berpotensi menjadi kekuatan yang konstruktif, di sisi lain, ia juga punya potensi destruktif. Melihat realitas politik tanah air belakangan ini, hasrat pada kekuasaan tampaknya masih sangat relevan. 

Setelah era Reformasi 1998 Indonesia mengadopsi sistem demokrasi terbuka, bahkan cenderung liberal. Terbukanya ruang public politis kemudian segera diikuti dengan fenomena riuh rendahnya kontesitasi perebutan kekuasaan. 

Sistem demokrasi langsung membuka kemungkinan bagi semu warga negara dari semua latar belakang untuk ikut serta dalam perebutan kekuasaan. Terlebih ketika aturan tentang desentralisasi kekuasaan dan otonomi daerah diberlakukan. Kesempatan untuk ikut laga tanding dalm perebutan kekuasaan baik di level lokal, regional maupun nasional kian terbuka bagi siapapun. 

Namun, di tengah euphoria kebebasan itu, muncul fenomena politik dinasti. Mengutip Mahkamah Konstitusi, politisi dinasti adalah model kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih ada hubungan keluarga atau kekerbatan. 

Sekilas tidak ada yang salah dengan politik dinasti. Terlebih jika mengacu pada dalil demokrasi bahwa setiap warga Negara memiliki hak yang sama untuk dipilih dan memilih. 

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dinasti politik yang berkembang selama ini telah mencederai esensi demokrasi itu sendiri. 

Politik dinasti harus diakui merupakan manifestasi dari absennya etika politik di pentas politik, terutama di level daerah. Otonomi yang sedianya bertujuan memeratakan hasil pembangunan justru melahirkan raja-raja kecil yang menjadikan kekuasaannya sebagai alat memperkya diri sendiri dan kerabatnya. Politik dinasti makin menyuburkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Di Indonesia, praktik politik dinasti yang merupakan anomali dalam demokrasi dibangun untuk mempertahankan dan mengendalikan kekuasaan secara penuh hingga lepas dari control. 

Dalam pendekatan teoritis bahwa dinasti cenderung korup terkonfirmasi lewat diktum Lord Acton yang mengatakan ‘power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely’ rupanya masih relevan sampai hari ini, Kekuasaan yang mutlak menjadikan seseorang berbuat korupsi, inilah fakta yang terjadi sekarang kecenderungan dinasti politik korup. 

Hukum memang menjadi panglima tertinggi dalam bernegara namun jika praktek berbangsa selalu menggunakan kekuatan hukum maka bisa dipastikan bangsa negara tersebut menganut aliran fasisme dengan sendirinya sehingga pada alam demokrasi ini batasan hukum positif mesti di konversi menjadi nilai budaya, yakni kemanusiaan, etika serta adab dalam berbangsa. Masyarakat terdiri dari beberapa lapisan yang kita sebut dengan profesi, itulah yang membatasi diri kita berbangsa yang lebih sehat dan rasional baik secara objektif maupun subjektif.

Pada sebagian daerah, strata sosial kita yang pertama mendapat tempat yakni Dokter dan Guru. Profesi mulia ini memiliki modal etik dalam menempuh akademiknya sehingga manakala mereka terpilih menjadi legislator diharapakan mampu merubah tatanan perpolitikan di situasi demokrasi yang masih berkembang seperti masa sekarang ini. Dasar kemanusiaan-lah point utama dalam berpolitik, Dokter menempatkan kemanusiaan sebagai subjeknya bukan objek, sehingga hal ini menggelitik penulis untuk mengangkat beberapa profesi yang terjun ke dunia politik untuk membuat progress politik, bukan jadi kaum status quo atau bahkan biang gaduh karena pengetahuan, tindak tanduk yang sok dan semakin moralis dalam politik.

Klaim sosial dan akademik seharusnya membawa pribadinya semakin dan semakin teguh dalam sikap kesehariannya, yaitu memperjuangkan kemanusiaan, semestinya. Sekarang malah terlihat mengeksploitasi kemanusiaan dengan mengadakan pengobatan-pengobatan gratis dimana-mana, ya benar ini bukan Kuba. Akan tetapi alangkah lebih eloknya profesi tersebut sudah sedari dulu melakukan itu semua, tidak dalam rangka, pragmatis yang tak kunjung berkesudahan. Pengobatan gratis ditawarkan kepada masyarakat guna menyembuhkan sakitnya saat ini saja. Beberapa hari lagi, akan sakit kembali, apakah ini adopsi teori politik, memelihara kemiskinan? Sedangkan Dokter ini merawat kesehatan untuk konstituen kembali dan terus kembali lagi kepada dirinya laiknya seorang dukun yang menyembuhkan “pasien”.

Guru merupakan seseorang yang disebut segala tau, mengapa? Pada tingkatan akademis tertentu, mereka dituntut untuk menguasai beberapa materi untuk disampaikan, diterangkan dan dipahami oleh seluruh peserta didik, ya sekolah dasar. Dalam menempuh strata sarjana pendidikan sekolah dasar inilah seseorang harus mampu memahami mata pelajaran, untuk itu penulis menyebut diawal bahwa ada guru segala tau. Tugas fungsi seorang guru semestinya bukan sekedar mengajar namun lebih dalam dari itu, mendidik. Disana ada perbedaan yang sangat fundamental, mendidik adalah sebuah kata yang mendeskripsikan akan pikiran dan tindak tanduk yang patut di contoh, nilai kemanusiaan justru lebih tinggi dibandingkan seorang Dokter, bagi pribadinya tetapi juga tidak bisa  di kontra-kan sebab masing—masing profesi memiliki sumber kurikulum yang berbeda. Secara keseluruhan bisa dipersamakan dalam meletakan tata nilai kemanusiaan, keadilan dan treatment dalam diagnosa persoalan yang ada.

Penulis dalam hal ini ingin menggaris bawahi dengan konkret bahwa semua profesi yang melekat dalam diri legislator sudah merupakan klaim social yang mau tidak mau, yang siap tidak siap harus di implementasikan pada semua lapisan masyarakat kita sehingga masyarakat mampu menyalahkan pribadinya bukan profesinya. Inilah tantangan bagi kaum profesi agar tak di generasi oleh masyarakat. Visi dan misi calon legislator sudah dipastikan tidak mampu ada manusia di dunia ini yang mengkritisi, mengapa demikian? Ya barang tentu, visi misi tersebut diambil dari sumber yang tak bisa dipatahkan laiknya dalil-dalil kitab suci, untuk itulah bagaimana kita sebagai masyarakat sedikit lebih tenang dalam memilih kepada legislator profesi, apapun itu yang melekat pada dirinya.

Tulisan ini bukan bermaksud mempersonalisasi atau bahkan justifikasi dari profesi satu persatu melainkan sebuah contoh nyata yang diambil dari keseharian kita sebagai masyarakat awam guna membangun opini tak ada persekusi profesi dari para oknum yang tidak bertanggung jawab secara akademik dan sosial. Perlu diketahui dan dingat sekali lagi bawah profesi merupakan klaim social dan social klaim kepada masyarakat terpilih untuk mendarma baktikan hidupnya kepada masyarakat secara langsung maupun tidak. Masyarakat Indonesia khususnya Cirebon sudah hidup lama bersama tata nilai yang telah mengikat dalam kesehariannya. Maka, saya sangat keras memperingatkan untuk para profesi mulia ini bersama-bersama membangun peradaban manusia menuju Revolusi Industri 4.0, yang dimana kita akan mengatur teknologi dan atau masyarakat sendirilah yang dimakan oleh teknologi ciptaan dirinya.

Partai politik adalah kendaraan, kekuasaan merupakan alat sedangkan tujuannya dari itu semua ialah kemanusiaan yang adil dan beradab menuju peradaban yang sosialis. Jangan melupakan apa yang telah membuatmu memiliki kekuasaan atas profesimu yang lebih luas, Tuan Guru dan Dokter! Sebab aku berpihak pada yang berguna bukan pada ilusi ideal.

Penulis adalah Pengamat Politik

Sutan Adji Nugraha

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini