Harga Pertalite Tetap, Meski Keekonomian di Atas Rp 10 Ribu

0
300
pertamina

Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dipastikan tidak naik meskipun harga minyak mentah dunia dalam tren melonjak sebagai dampak invasi Rusia ke Ukraina dan naiknya permintaan global seiring dengan pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.

Pergerakan harga minyak dunia yang terus menguat membuat harga keekonomian Pertalite di atas Rp 10 ribu per liter. Pada awal Maret, harga sejumlah jenis BBM yang dijual di SPBU Pertamina yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami penyesuaian harga mengikuti naiknya harga minyak mentah dunia.

Penaikan harga BBM non penugasan itu dinilai bisa mengurangi beban APBN, tanpa memicu inflasi dan memperburuk daya beli masyarakat. Yang jelas, Pertalite dan Pertamax harganya masih sama seperti sebelumnya, yakni Pertalite Rp 7.650 per liter dan Rp 9.000 per liter.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menilai, menguatnya harga minyak dunia membuat harga keekonomian Pertalite di atas Rp 10 ribu per liter. Namun, ia melihat pemerintah tetap menahan harga jual Pertalite. “Saya kira kepedulian dan niat baik Pertamina tersebut sangat positif pada masyarakat,” ujar Komaidi kepada CNBC Indonesia, Senin (7/2/2022).

PILIHAN REDAKSI Siap-siap RI, Migas Sampai Emas Terancam Langka Imbas Perang Bahaya! Ini Efek Ngeri Perang Berkepanjangan Buat RI Harga LPG & BBM Non Subisidi Tinggi, Momentum Alih ke Listrik

Menurut Komaidi, saat ini sulit memprediksikan puncak harga minyak dunia karena akan dipengaruhi berbagai faktor. Faktor pendorong kenaikan harga minyak lebih pada faktor psikologis yang dalam konsep ekonomi banyak dikenal dengan teori ekspektasi rasional.

“Dasar pengambilan keputusan bukan pada ukuran fundamental ekonomi tetapi lebih pada faktor kepanikan jika dalam konteks perang,” ujarnya.

Doktor ekonomi lulusan Universitas Trisakti itu menambahkan jika kepanikan terus meluas dan masif pada skala dunia, akan dengan mudah harga melampaui level US$ 120 per barel. Bahkan, katanya, ada potensi komoditas ini menyentuh angka US$ 150 per barel. “Tapi prediksi-prediksi ini sulit ditemukan justifikasinya mengingat variabel kepanikan sulit dihitung,” ujarnya.

Menurut Komaidi, pemerintah dan Pertamina perlu lebih proporsional dalam mengambil kebijakan. Dia mencontohkan BBM dengan RON 90 merupakan non subsidi yang tidak diberikan subsidi di APBN. Maka, semua pihak yang terkait dengan penentuan harga perlu konsisten jika BBM dengan kategori non subsidi, pemerintah tidak bisa menetapkan harganya karena harus mengacu pada mekanisme pasar.

“Maksimal yang dapat dilakukan adalah menetapkan batasan harga tertinggi dan harga terendah untuk melindungi kepentingan produsen dan konsumen. Jika, memang tidak dibolehkan untuk disesuaikan harganya saya kira perlu konsisten saja yaitu dijadikan RON 90 sebagai BBM subsidi,” katanya.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fajriyah Usman sebelumnya mengatakan Pertamina terus mencermati kenaikan harga minyak mentah dunia dan dampak-dampak strategisnya.

Yang jelas, Pertamina berupaya menjaga pasokan BBM dan Elpiji nasional, menjamin distribusi komoditas penting tersebut sampai ke seluruh masyarakat Indonesia serta memastikan keberlanjutan ekosistem energi nasional di tengah tantangan harga minyak mentah dunia yang terus melambung.

“Kegiatan operasional Pertamina dari hulu, kilang sampai hilir, tetap berjalan dengan baik untuk menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Fajriyah.

Menurut dia, dengan upaya ini Pertamina memastikan ekosistem migas nasional juga dapat berjalan dengan baik agar terus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan dukungan stakeholder, Pertamina akan terus meningkatkan kinerja menghadapi tantangan dinamika energi global dan transisi energi dunia agar menjamin ketahanan dan kemandirian energi nasional yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi pascapandemi COVID-19,” katanya.

Sumber asli: cnbcindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here