Keluarga Pasien COVID-19 Dimintai Rp 8 Juta untuk Biaya Pemakaman

0
100

Salah seorang keluarga pasien COVID-19 yang dimakamkan dengan protokol kesehatan di Mamuju mengaku dimintai uang sekitar Rp 8 juta sebagai upah pemakaman almarhum Suprobo, asisten pribadi mantan Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, yang meninggal usai positif COVID-19.

“Kemarin itu ada chat saya, baca dari teman yang mengurus penggalian kuburan, terus chatnya itu ada estimasi biaya untuk 14 orang penggali (kubur), masing-masing Rp 500 ribu per orang. Belum termasuk obat-obatnya, pertalite, solar, dan lain-lain. Kalau tidak salah total estimasinya sekitar Rp 8 juta,” ungkap pihak keluarga Suprobo, Hendra, Kamis (12/8/2021).

Menurut Hendra, pesan itu diduga dari salah satu staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulbar.

“Saya tidak tahu persis apakah ini perintah dari kepalanya (Kepala BPBD Sulbar), yang jelas ini chat di WhatsApp dari anggotanya di BPBD Sulbar,” kata dia.

“Saya tidak tahu persis apakah sudah dikasih. Karena itu malam ada mengatakan, tak usahlah diributkan, nanti kita kasih saja. Jadi saya diam karena ada pimpinan kami mengatakan seperti itu,” sambung Hendra.

Suandi, salah seorang staf BPBD Sulbar yang ikut bertugas dalam pemakaman almarhum Suprobo, menampik dirinya meminta biaya pemakaman ke pihak keluarga pasien.

“Kemarin itu sempat saya komunikasikan itu dengan Pak Ansar Malle di Biro Umum, karena beliau sempat sampaikan kepada kami mohon dibantu terkait ini. Jadi saya katakan iya Pak,” ucap Suandi.

Dikatakan, tim pemulasaran jenazah pasien COVID-19 di Mamuju ada 24 orang, yang terbagi dalam tim BPBD Mamuju dan BPBD Sulbar. Suandi menyatakan, dana Rp 8 juta yang diajukan ke Biro Umum untuk membeli kebutuhan, seperti BBM, makan dan minuman, cairan disinfektan, hingga kebutuhan lainnya.

“Kami ajukan ke Biro Umum kurang lebih yang kita sebutkan (Rp 8 juta). Tetapi komunikasi saya hanya ke Biro Umum, kalau ke pihak keluarga almarhum tidak pernah,” jelasnya.

Suandi mengakui, sejak Januari timnya tak lagi mendapatkan kucuran dana untuk penanganan pemakaman pasien COVID-19.

“Sejak bulan Januari kita tidak pernah dapat kucuran dana lagi karena kita tidak masuk dalam (tim) teknis fundamental, hanya menjadi tim ahli. Tetapi begitu kasus meningkat, BPBD kabupaten (Mamuju) sudah kewalahan, akhirnya kami mem-back up untuk turun. Jadi banyak hal-hal teknis harus kami sediakan terlebih dahulu, baik itu cairan disinfektan untuk jenazah, dan setelah kami buka baju, harus kami sediakan terlebih dahulu,” urai Suandi.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, dr. Muh. Ihwan, mengatakan biaya pasien terkonfirmasi positif COVID-19 mulai dari perawatan di rumah sakit hingga pemulasaran jenazah menjadi tanggungan negara.

“Tidak boleh, jangankan sejuta lima, ratus ribu (rupiah) saja tidak boleh kita mintai,” kata Ihwan.

Diketahui, Suprobo meninggal dunia pada Selasa (10/8/2021) sore. Asisten pribadi mantan Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh ini sempat dirawat di RS Regional Sulbar karena positif COVID-19. Jenazahnya dimakamkan Selasa malam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here