Resmikan 6 Subholding, Erick Thohir Yakin Pertamina Punya Nilai Pasar USD 100 Miliar

0
233

PT Pertamina (Persero) tengah berupaya mengejar aspirasi pemegang saham mencapai nilai pasar US$ 100 Miliar dan Global Energy Champion pada tahun 2024. Hal ini terungkap dalam peresmian 6 Subholding yang digelar Pertamina dengan tema ‘Moving Forward Becoming Global Energy Champion’.

Dalam kesempatan ini, Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan bahwa selama delapan bulan ini, Kementerian BUMN terus melakukan transformasi BUMN yang termasuk dalam 88 proyek strategis BUMN hingga tahun 2023 yang telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo. Diketahui, Pertamina juga baru saja menuntaskan proses restrukturisasi melalui penandatanganan sejumlah dokumen legal (legal end-state) awal September lalu.

“Dari 88 proyek yang kita targetkan itu, alhamdulillah di tahun ini 90 persen terjadi. Dan tentu banyak dari transformasi ini ada di Pertamina,” ungkap Erick dalam keterangan tertulis, Jumat

Erick mengungkap, Presiden berharap Pertamina dapat terus meningkatkan pelayanan publik. Yang terpenting, lanjutnya, membangun ekosistem supaya Pertamina bisa bersaing dan mendorong value added.

Ia pun mengingatkan agar lompatan-lompatan yang sudah berjalan saat ini tetap terjaga dan sesuai dengan 5 Key Performance Indicator di Kementerian BUMN. Adapun kelima indikator itu antara lain, menyeimbangkan antara korporasi dan pelayanan publik, kembali kepada core business dan menjadi excellent, inovasi digital dan R&D untuk menjadikan Pertamina Technology Company, dan transformasi Human Capital.

“Buktikan kepada dunia, Indonesia juga bisa punya perusahaan yang valuasi-nya mencapai US$ 100 billion. Kita bisa, dan saya yakin legacy ini untuk kita semua. Saya memastikan transformasi akan tetap berjalan, karena ini bagian terpenting buat kita sebagai bangsa besar. Tidak mungkin kita akan terus menjadi bangsa besar kalau tidak ada ketahanan energi,” imbuh Erick.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyampaikan bahwa holding migas yang dibentuk sejak tahun 2018 terus berjalan. Meski sempat diterpa pandemi, Nicke menilai agenda transformasi tidak boleh berhenti dan harus dipercepat sesuai dengan arahan pemegang saham.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Menteri selaku pemegang saham yang membawa agenda ini ke rapat-rapat sesama kementerian maupun ke Ratas, sehingga berbagai regulasi akhirnya berhasil kita dapatkan pada akhir Agustus kemarin,”ungkap Nicke.

Menurut Nicke, transformasi yang dijalankan Pertamina sejalan dengan global transition yang terjadi. Maksudnya, Pemerintah memberikan komitmennya untuk melakukan transisi energi sesuai dengan Paris Agreement. Sehingga, pihaknya pun harus mendukung langkah ini, sebab Pertamina merupakan satu-satunya perusahaan milik negara yang terintegrasi dari hulu ke hilir serta menjadi andalan dan memberikan kontribusi besar dalam suplai energi bagi negara.

Nicke memaparkan pihaknya memiliki 3 tugas yang harus dilakukan secara paralel, yakni menyediakan dan mendistribusikan energi untuk seluruh masyarakat Indonesia dan juga industri. Serta ditantang untuk melakukan pengembangan dan melangkah untuk menjawab energi transisi.

“Bagaimana cara kita melaksanakan? Kita membagi kapal besar Pertamina dengan membuat 6 kapal-kapal kecil yang kita sebut Subholding. Ada yang bertugas hari ini. Ada yang bertugas untuk transisi menjajaki di laut yang berbeda. Dan ada yang harus berpindah kapalnya di lautan sebelah,” terangnya.

Ia menjelaskan 3 Subholding, yakni Subholding Upstream, Subholding Refining & Petrochemical dan Subholding Commercial & Trading harus tetap menjalankan tugas saat ini. Sebab, Pertamina mempunyai amanah sesuai Undang-Undang Energi, yakni menjaga keandalan atau availability, accessibility, affordability, acceptability dan sustainability. Untuk itu, lanjutnya, investasi Pertamina sebesar 55% di lini bisnis eksisting tersebut dilakukan karena Indonesia memiliki cadangan yang harus dioptimalkan.

Sementara itu, Subholding Gas akan bergerak ke tengah untuk mengelola energi transisi dari fosil fuel ke new and renewable energy, yakni Gas dengan porsi dalam bauran energi tetap di angka 22% hingga 25%. Dengan peningkatan demand energi 5 kali lipat, Nicke menilai dalam 5 hingga 10 tahun ke depan porsi gas harus ditingkatkan.

Menurutnya, saat ini Pertamina memiliki pipa gas sepanjang 24 ribu kilometer dan terpanjang di Asia Tenggara. Adapun kunci kekuatan bisnis gas ialah infrastruktur, sebab gas hanya bisa ditransfer dengan pipa.

Untuk Subholding Power & NRE, terang Nicke, telah bergerak menuju energi terbarukan. Saat ini, Pemerintah telah mulai mengintegrasikan geothermal yang nantinya menjadi kapasitas terpasang ketiga terbesar di dunia. Ke depan, pihaknya juga akan mengintegrasikan antara hulu Geothermal dengan hilir yakni Petrokimia. Lebih lanjut, Nicke menyebut pihaknya juga memiliki Subholding Integrated Marine Logistic untuk mendukung kelima subholding yang ada.

“Subholding ini harus ada di masa kini, di masa transisi dan di masa depan. Harus selalu relevan, karena Indonesia adalah negara kepulauan. Apapun energinya, kita tetap membutuhkan transportasi laut. Bahkan, sekarang Integrated Marine Logistic ini mulai bergerak ke arah virtual pipelines,” kata Nicke.

Terkait keraguan soal pemisahan Subholding, Nicke menyebutkan kuncinya adalah integrasi yang dilakukan oleh Holding dalam hal operasional dan komersial. Serta mengawasi tugas-tugas yang diberikan oleh Negara. Sehingga, Pertamina sebagai holding akan tetap ramping dengan fungsi integrasi.

Menurutnya, sumber daya manusia (SDM) juga harus relevan dengan masa depan. Guna mengintegrasikan seluruh SDM yang ada, pihaknya juga harus memastikan program digitalisasi berjalan dengan membuat Pertamina Integrated Control Command Center (PICC).

Senada dengan itu, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan optimismenya dalam restrukturisasi Pertamina. Termasuk dalam transformasi SDM, baik di Holding maupun Subholding.

Ia mengatakan, selain dukungan performa Manajemen dan SDM yang berkualitas, Pertamina juga terus mengembangkan bisnis proses yang terdigitalisasi. Adapun langkah ini tampak melalui Pertamina Integrated Command Center, digital signature, digitalisasi SPBU, dan aplikasi MyPertamina.

“Kita bersyukur, saya ditugaskan di sini dengan rekan dekom, kita telah berhasil meyakinkan kerja sama dengan baik dengan direksi. Sekarang sudah ada procurement secara digitalisasi kita kontrol dengan baik, kita juga sudah ada tanda tangan disposisi digital jadi kita bisa bebas bekerja di mana-mana dan Pertamina sangat baik,” ungkapnya.

“Pengelolaan SDM juga semakin membaik. Kami mendukung terus transformasi organisasi dan pengelolaan SDM, termasuk dengan memastikan adanya sistem penilaian dan pemberian remunerasi Pekerja yang adil dengan berbasis kinerja (performance based). Saya bilang Pertamina paling top,” tandasnya.

Sebagai informasi, Peresmian Subholding ini dilakukan langsung oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Hadir pula mendampingi sejumlah pejabat terkait, seperti Wakil Menteri 1 BUMN Pahala Nugraha Mansury, Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

Sumber asli: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here