Tak Ada Jaga Jarak Duduk di KRL, Epidemiolog: Sangat Tidak Tepat, Ini Berbahaya

0
39

Theindopost.com- Penumpang kereta rel listrik (KRL) sudah bisa duduk tanpa jarak mulai Rabu (9/3/2022). Adapun jumlah penumpang dibatasi hanya 60 persen dari kapasitas gerbong.

Menanggapi hal tersebut, Epidemiolog Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, pelonggaran jaga jarak tersebut tidak tepat dan masih sangat berbahaya untuk diterapkan di tengah pandemi Covid-19.

“Sangat tidak tepat untuk sekarang ini dan berbahaya, kita tidak bisa langsung euforia semua dilonggarkan,” kata Dicky, Kamis (10/3/2022).

Dicky mengatakan, pelonggaran mobilitas dan protokol kesehatan tidak bisa serentak dilakukan.
Sebab, kata dia, vaksinasi Covid-19 di Indonesia belum memadai sebagai modal untuk melakukan pelonggaran.
“Di sini (Australia) yang 90 persen (cakupan vaksinasi) masih ditetapkan jaga jarak,” ujarnya.

Dicky juga mengatakan, protokol kesehatan dalam hal ini menjaga jarak tetap harus dijalankan, mengingat subvarian Omicron BA.2 bisa memicu lonjakan kasus Covid-19 dan peningkatan jumlah kasus kematian.

Selain itu, subvarian Omicron BA.2 memiliki daya penularan empat kali lebih cepat dari Delta.
“Dan BA.2 ini 2 kali lebih cepat menular daripada BA.1, ini serius sehingga menyebabkan keparahan. Jadi ini yang harus diketahui sehingga jangan ada euphoria semua dilonggarkan, bertahaplah dan dijaga,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa situasi Covid-19 di Indonesia masih berstatus pandemi dan angka kematian masih meningkat.

“Dan proses penyebaran atau transmisi kasus di masyarakat banyak yang tidak terdeteksi karena yang pada gilirannya mengarah pada kematian. Jadi ini yang harus kita perbaiki,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here